Lana, Lexa, Tino (1)

Pertemuan

Pagi itu di rumah orang tua Lanang yang berada di pinggir kota jogja. Masih sangat tenang belum ada kendaraan yang berlalu lalang. Sawah yang mulai menguning membentang di depan rumah. Gunung menjadi pemandangan yang indah di sana.

“Bu aku berangkat ya. Aku sudah telat niy. Nanti ketinggalan kereta.”

“Tunggu dulu. Kamu belum bawa bekal untuk nanti di kereta.”

“Iya tapi aku terlambat bu.”

“Sudah turuti saja apa kata ibumu. Senangkan hatinya selagi kamu di sini.”

Lanang tidak bisa membantah permintaan bapaknya. Ia menurut seperti permintaan bapaknya untuk menunggu. Ia menunggu dengan gelisah karena ini merupakan perjalanan pertamanya menggunakan kereta dan esok harinya ia akan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di perguruan tinggi negeri di Jakarta.

~<()>~

Terminal tanjung priok sudah sesak dengan kendaraan umum dan calon penumpang. Alexa terlihat bingung harus menggunakan kendaraan umum yang mana. Kemudian ia bertanya kepada seseorang pengendara bermotor yang sedang beristirahat.

“Pak maap niy. Klo mau ke Depok naiknya apa ya?”

“Oh ke Depok? naiknya …begini..begitu..begini…”

“Oh iya makasih ya pak.”

“Tapi sekarang bisnya lagi ga ada. Mau saya anterin?”

“Eh ga usah pak. Makasih.”

“gapapa dek saya anterin. Ga usah di bayar.”

Alexa bingung untuk menolak bantuan bapak tersebut. Tetapi ia tahu ada niat lain dari bantuan bapak tersebut. Alexa memang seorang pemuda yang manis. Akhirnya ia langsung lari ke arah para penumpang yang sedang berdesakkan.

~<()>~

Di pinggir terminal Blok M yang terlihat sepi. Mungkin sepi karena orang tidak akan nyaman ketika melewatinya dan memilih jalan lain. Tetapi disana terdapat sekelompok orang.

“Bos, ngapain brangkat sekarang?”

“Gapapa gua mau nyari kosan di depok.”

“Jah lu ninggalin kita dong bos?”

“Ya kagak. Kan ada hape kita tetep bisa komunikasi gtuh.”

“O iye. Lu siy bego bener cun.”

Suara tertawa mereka menambah suasana tambah tidak enak terlihat di jalan sepi itu. Orang-orang yang sudah memberanikan diri untuk melintas kembali mengurungkan niatnya.

“Nah yang mau gua tanyain tu. Lu pada gapapa gua tinggal kuliah?”

“gapapa Bos. Kita redo kok.”

“Lagian kan masa iya di antara kita ga ada yang kuliah gtuh.”

“Ho oh biar ngajarin kita nantinya.”

“Eh iya juga siy. Tumben lu pinteran dikit niy cun.”

Suara tawa mereka kembali meledak. Tetapi langsung terputus oleh suara Agustino.

“Iya-iya gua ngarti klo emang harus ada yang kuliah di antara kita.”

“Sip. Nanti ajarin kita ya Bos.”

“Tuh bisnya udah dateng.”

“Oke gua jalan dulu ya. Jangan lupa kasih kabar klo ada apa-apa.”

“Oke Bos.” jawab mereka serempak.

Agustino langsung melompat ke dalam bus yang sedang berjalan. Ia melihat orang-orang tidak terlalu mempedulikan kehadirannya. Dalam pikiran Agustino, ya memang seharusnya begini klo gua ingin berubah menjadi seorang mahasiswa..tidak ada orang yang perlu takut ama gua.

Penampilan Agustino memang terlihat lebih rapih tidak seperti hari-hari yang biasa ia lewati. Celana jeans sobek dimana-mana, baju kemeja belel dengan dalaman kaos oblong yang juga terlihat dekil. Di tambah dengan bau keringat yang menyengat.

~<()>~

Perempatan Kelapa Dua yang penuh sesak dengan kendaraan yang lalu lalang. Sering kali terjadi kemacetan di perempatan ini akibat lampu merah yang sering mati. Masuk ke arah Rumah Tahanan Militer (RTM) di sana banyak terdapat rumah-rumah kos ataupun rumah-rumah yang menyediakan tempat kos.

Lanang yang tergopoh-gopoh menuju tempat kosnya karena membawa barang bawaan yang berat. Jika orang lain melihatnya mungkin akan berpikir bahwa ia sedang memindahkan kamarnya. Beberapa orang yang lewat hanya tersenyum kecil melihat Lanang tergopoh-gopoh. Dalam pikiran Lanang, kok tidak ada yang mau membantu aku ya? apa memang aku ini hanya sebagai bahan tertawaan?

Tiba-tiba ada sebuah tangan yang langsung merangkul sebagian barang bawaan Lanang. Ia terkejut tapi ia langsung tersenyum karena ia melihat orang tersebut tidak berniat mencuri melainkan membantu dirinya.

“Masih jauh apa nggak?” Agustino langsung bertanya tanpa mempedulikan betapa berat barang yang sedang ia bawa.

“Oh iya maap mas. Tinggal dua belokan lagi kok. ndak papa toh mas?”

“Wes ora papa.”

“Ealah.. dari daerah juga toh?”

“Nggak gua cuma ngikutin logat lu.”

Mereka hanya tertawa sampai tiba di tempat kos Lanang.

“Mari mas istirahat dulu. Tak bikinin minum ya?”

“Ga usah. Ngerepotin lu aja. Gua lagi nyari Kosan juga masalahnya. Langsung ya?”

“Langsung?”

Agustino bergegas keluar tempat kos Lanang supaya ia tidak di buatkan minuman.

~<()>~

“Papi gmn niy udah malem juga. Katanya bakal ada yang jemput aku langsung ke tempat kosan?”

“Aduh maap ya lexa. Papih lupa. Gini aja, kamu cari kosan sendiri dulu nanti uangnya papih ganti. Oke?” suara dari dalam handphone Alexa terdengar lirih. Berharap agar anaknya tidak bermanja-manja lagi.

“Haah. Yaudah gapapa lexa cari sendiri. Tapi klo lexa ga nemu-nemu papi yang nanggung ya.”

“Oke sayang. Maap ya papi masih ada meeting.”

“Iya bye.” dalam pikiran Alexa, siapa lagi yang di meetingin sama papi ya? pantes mami minta pisah mulu.

Jam digital di tangan Alexa menunjukan pukul 22.23. Dalam pikiran Alexa, OMG dah jam segini lum nemu juga kosan kosong. duh klo nemu angker ga ya. kok aku jadi takutan gini siy. Lexa lu itu udah gede please deh jangan takut ama hantu. dan inget jangan suka manja-manjaan ma papi lagi. duh klo hantu iya bisa. tapi klo manja ma papi. sedikit-sedikit aja ya >.<

“Neng.. eh dek, lagi ngapain malem-malem gini?”

“Eh? Lagi nyari kosan. Dimana ya yang masih kosong? Besok saya mau langsung kuliah.”

“Ada kok sini ikut saya.”

Alexa tanpa pikir panjang langsung mengikuti orang tersebut. Mereka melewati gang sempit. Dalam pikiran Alexa, kok tempatnya jauh amat. kayaknya ga mungkin ada kosan di situ deh. tempatnya ga enak banget buat kosan. jauh bener.

“Maap mas, masih jauh ya?”

“Nggak kok sebentar lagi.”

Setelah beberapa belokan. Tiba di ujung gang.

“Inikan gang buntu. Ga ada kosannya?”

“Siapa yang mau nganterin situ ke kosan? Dah di sini aja yuk kita seneng-seneng.”

“maksudnya?”

Tangan Alexa langsung di genggam dengan keras oleh orang tersebut. Alexa tidak dapat berkutik.

“Jangan coba-coba teriak. Saya memegang pisau. kamu ga mau kan nyawa kamu ilang?”

Alexa nangis sejadi-jadinya. Tetapi ia tidak berani mengeluarkan suara.

“HEY KUNYUK! BERENTI SAMPE DI SITU!”

“Lu mau ikutan? Sini ayo gua bagi-bagi dah.”

“Et gua masih normal ga kayak lu.”

“Ah BANYAK BACOT LU! MAU LU APA?”

“GUA MAUNYA LU LEPASIN TU ORANG! GA BISA SINI GUA BANTUIN LEPAS!”

Terjadi pertikaian sengit antara dua orang tersebut. Alexa merapihkan pakaiannya. Ketika ia melihat goresan darah pada orang yang membantunya, ia teringat akan kejadian  pertengkaran antara papi dan maminya.

~<()>~

“Papi bohongkan?”

“Bohong apa? Papi ngomong yang sejujurnya.”

“Papi jahat. papi ga mungkin mau nikahin sekretaris papi sendiri!”

“Udah papi bilang! Papi mau tanggung jawab semuanya.”

“Tapi ga harus nikahin dia kan?” air mata tak terbendung dari mami Alexa. membanjiri setiap liku pipi mami Alexa.

“Papi udah ngomong gitu ama dia. Masa papi ga lakuin?”

Alexa yang merasa terganggu dengan pertengkaran itu ingin melerai. Tanpa sadar mami Alexa sudah memegang pisau dan siap menikam papi Alexa dari belakang.

“MAMI…!”

~<()>~

“STOP!” Alexa berteriak kencang.

“Tenang aja sudah gua stop kok.” kata seseorang yang menolong Alexa setelah ia membuat pingsan pengganggu tersebut.

Orang tersebut menarik tangan Alexa membangunkan Alexa. Alexa terlihat sangat shock. Ketika melewati sinar lampu di tiang listrik. Orang yang menolong Alexa adalah Agustino.

“Lu kenapa terlihat pucat? belum makan?”

“Akh gapapa kok.”

“Yakin? Lu capek kali. Lu nyari kosa juga ya?

“Iya tapi lum ketemu.”

“Yawdah ketempat temen gua aja yuk.”

Entah kenapa Alexa menurut saja. Ia merasa nyaman dengan Agustino. Yang apabila ia mengetahui siapa Agustino sebenarnya mungkin ia tidak mau bertatap muka dengannya.

~<()>~

“Permisi… mas…”

“Iya.. siapa ya? Tunggu sebentar..” Lanang langsung bergegas menuju pintu.

“Ealah mas yang tadi. Kenapa ini? Lah temennya pucet. Sini masuk aja.”

Dalam pikiran Alexa, dasar katanya temen tapi namanya ga di sebut. di bohongin aku. harus waspada niy. duh tapi lemes banget. gara-gara kejadian tadi trus inget kejadian papi mami tambah-tambah deh >.< yawdah pasrah aja ya ALLAH lindungi hamba-MU ya ALLAH >.<

“Lum dapet kosan ya mas? Gapapa kok kalau mau di sini bareng saya. Tempatnya luas. Aku agak takut juga niy mas kalo sendiri.”

“Yang bener? gapapa niy?”

“hmm… Saya gimana?”

“gapapa mas betiga juga bole?”

“Oke sip deh. eh bulanannya PT PT ya.”

“eh?” jawab Lanang dan Alexa hampir berbarengan.

“Maksudnya patungan gtuh. Di bagi-bagi.”

“Oooh iya wis bisa di atur mas.”

“Oke ga masalah.”

Dalam pikiran Lanang, pak bu aku wis dapet temen niy. temennya sing baek-baek. lah keliatannya aja ga ada yang serem. Dalam pikiran Alexa, akh aku bisa istirahat dulu deh. untung ada orang yang baik-baik ini. Dalam pikiran Agustino, yes gua dapet kosan. gua harus kasih tau temen-temen di blok M niy biar ga pada kuatir.

~<()>~

“Bangun mas… mas bangun… sudah adzan subuh.”

“uhm… huuh.. iya iya duluan.” Dalam pikiran Alexa, kok kayak mbok di rumah ya suka bangunin subuh. dapet alarm hidup lagi deh.

“Lex, cepet lu mau kita tinggalin?” Dalam pikiran Agustino, enaknya klo ada yang nemenin dan bangunin subuh. kapan ya terakhir gua solat subuh?

~<()>~

“Agus bangunin yang lain biar sholat subuh jama’ah di mushola.”

“Iya kak.”

“Ayo denger tuh aku dah dapet titah buat bangunin kalian semua.. AYO BANGUN BANGUN! SHOLAT SUBUH!”

“Aaaaakh iya-iya ampun gus. Suara kamu kenceng banget siy?”

“iya niy banguninnya pelan-pelan dong.”

Mereka sholat subuh dengan semangat. Kemudian mengaji setelah sholat subuh. Suara Agus memang yang paling lantang di antara mereka. Ia semangat karena ada teman-temannya dan kakak tingkatnya di pesantren itu.

~<()>~

“Kenapa no?” tanya Alexa yang sudah siap untuk menuju masjid.

“eh.. gapapa kok. Yuk jalan Lanang udah di depan nungguin kita.”

Responses

  1. Mantab’s Lanjutkan men….

    Sipp deh pokok nya..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.