Langit Jakarta sudah menghitam menandakan akan turun hujan yang lebat. Tapi suasana yang mendung itu tidak mempengaruhi suasana hati ku yang sedang cerah. Ya aku lagi senang banget karena gebetan dari masa SD baru aja nembak aku tadi siang. Dia bilang udah naksir aku dari SMP. Walau pun rasa suka aku tertanam lebih lama dari dia itu udah ga masalah lagi. Karena sekarang dia udah jadi pacarku.
“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?” tiba-tiba Agung nanya aku yang emang cengar-cengir dari tadi. “Eh kamu nyetirnya kok ga konsen? Lagian kok tau aja aku lagi senyum-senyum?” aku jadi salah tingkah, bingung sendiri deh. “Aku liat dari spion.” Aku liat si Agung nyengir di kaca spion. “Udah nyetirnya yang fokus donk!” Alih ku sambil mencubit pahanya. Ia membalas cubit tidak mau kalah. Motor besarnya berhenti tepat di belakang garis zebra cross menunggu lampu merah. Kami saling pandang di kaca spion. Aku tersipu malu. Aku mengeratkan pelukan ku ke tubuhnya yang besar. Ia menggenggam tanganku dengan lembut.
“TIN!” suara klakson dari arah belakang mengagetkan kami. “Oi lampunya udah ijo!” teriak pemuda itu kesal. Agung hanya melambaikan tangannya dan melaju dengan hati-hati. Ia memilih jalur kiri dan mengemudi dengan perlahan. Membuatku bertambah kantuk. Aku termasuk kategori cewek pelor, nempel molor. Apalagi aku sedang bersandar di punggung seorang cowok yang aku idam-idam dari lama. “Sayank ku jangan tidur dulu, aku kan lum tau kosan kamu.” Aku hanya memberi isyarat oke dan mataku perlahan-lahan tertutup rapat dan tidak ada yang bisa mengganggu.
Aku terbangun dari tidur yang sangat nyenyak. Uah sang putri tidur bangun walau pun nggak ada pangeran yang mencium. Ku meregangkan badan. Ternyata bu Ratna udah ganti kasurku dengan yang lebih empuk. Aku berdiri dan berjingkrak-jingkrak. Waah pernya mantap. Kemudian ku jatuhkan tubuhku untuk berbaring telentang. Kok ada lampu kristal yang mewah di kosan bu Ratna? Ku tengok kanan, ada lemari dan interior mewah yang lengkap. Ku tengok kiri, ada jendela dengan view lapangan yang luas dan juga seorang cowok yang tidur di sofa. “AAAKH!” aku terkejut, aku berada dimana sekarang? “huaam… sayank ku udah bangun?” Agung bertanya santai sambil meregangkan badan. “Kok aku bisa ada di sini? Ini tempat siapa?” Aku panik. “Tenang ini apartemenku.” Jawab Agung santai. “Duh semalem ngapain aja?” Makin panik, bingung. OMG apartemen cowok getoh! atau aku harusnya seneng ya :p “Yah pokoknya seru n asik deh.” Bantal langsung mendarat tepat di kepala Agung. “Yank becanda kali, aku langsung bawa kamu kesini soalnya kamu tidur ga bisa dibangunin. Aku gendong kamu sampe kamar. Mana meluknya ga bisa lepas. Aku kan malu.” Ia menjawab dengan menggebu-gebu. “Oh! gendong aku malu?” nanya dengan tampang sok serius. “Nggak malu cuma berat aja.” Agung ngejawabnya agak panik. “Oh! jadi aku berat?” masih dengan tampang sok serius. “Nggak berat kok. Sumpah. Masa iya kamu berat? Kamu kan imut.” ihihihi aku suka ngegodain dia.
Kita sebenernya emang udah deket dari SD. Dia waktu itu punya julukan ikan buntel karena saking gendutnya, sedangkan aku dijuluki putri ceking karena suka berpakaian seperti putri tapi dengan tubuh yang ceking. Walau pun sama-sama menjadi sasaran olokan teman-teman tapi dia selalu bisa menghibur aku. Mulai saat itulah aku menjadi suka sama dia. Si ikan buntel sekarang berubah menjadi seorang cowok yang banyak diminati para cewek-cewek. Dengan tubuh yang tinggi dan berdada bidang buat nyender semalem suntuk ga bakal kalah kecengan dah sama model iklan L-men. Sedangkan si putri ceking menjelma menjadi putri yang cantik jelita imut manis menawan hati dan menggoda iman (loh?). Tubuh semampai tanpa harus pake high heels. Yang pasti bikin cowok-cowok klepekan kalo aku kasih senyum.
“Sayank ku hari ini ada kuliah ga?” Agung nanya sambil makan roti sobek. “Ih jadwal kuliah kita kan samaan.. masa kga apal siy? kita kosong hari ini.” Aku menahan tangannya yang akan memasukkan potongan roti ke dalam mulutnya. “Kebiasaan jelek harus di stop!” dia cuma nyengir aja. “Sebuah kebiasaan ga bisa di ubah. Hanya bisa diganti dengan kebiasaan yang baru,” Agung membalas sok bijak, “jadi sekarang kalo aku ngobrol aku nyemilnya kamu aja ya?” langsung ku toyor mukanya. “Eh aku serius!” Agung masang muka pengen. “Enak aja!” aku menutup-nutupi tubuhku dengan tangan. “Maksud aku hari ini kita jalan. Ada sesuatu yang mau aku beli.” Ia mengalihkan pembicaraan. Aku tau dia pengen beneran. Yah kalo dia yang minta siy apa pun bakal aku kasih (loh?).
Akhirnya kami keluar apartemen setelah makan siang. Katanya untuk penghematan. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku berjalan-jalan hanya berdua dengan dia. ya karena kami sudah dekat dengannya dari masa SD. tapi ini adalah pertama kalinya ia mengajak kencan setelah adegan penembakan. ahahaha kencan? dengan tujuan membeli barang yang aku sendiri ga tau dia mau beli apa. Motor besarnya di parkirkan di parkiran sebuah toko buku. Tangannya melingkar di pinggangku dan ia mengajakku untuk bersegera masuk ke dalam toko. Akhirnya kami sampai di depan rak yang berisi dengan deretan buku harian. Ow tumben-tumbenan cowok punya buku harian ihihihi. “Kamu sukanya yang mana?” Tiba-tiba Agung nanya aku yang lagi melamun mikir dia nulis buku diary di kasur. “Oh yang ini ya?” dia nunjuk sebuah buku diary yang berlatar kamar, terdapat kasur dan bantal warna pink di atasnya. Ia menunjuk itu karena melihatku mataku berbinar-binar saat melihatnya. Aku mengangguk saat ia bertanya sekali lagi untuk meyakinkan. “Emang kamu mau isi buku itu?” aku bertanya penasaran kepadanya. “Ini buat kamu. Kamu isi ya mulai hari ini. Ini hadiah pertama dari aku karena udah nerima aku jadi pacar kamu.” Ia tersenyum. Membuatku tersipu malu. “Tapi kamu harus isi juga ya? ini jadi diary kita.” Ia membalasnya dengan senyuman dan anggukan. Aku membalasnya dengan pelukan yang erat.
27 Oktober 2008
Dear diary,
Selvi:
hari ini aku seneng banget dy ngasih kamu ke aku
dy juga udah janji untuk ngisi kamu bareng-bareng. untuk sekarang siy masih bisa nulisnya satu hari barengan karena aku masih nginep lagi di tempat dy. untuk selanjutnya.. aku ga tau deh :p oiya tadi dia muji makanan bikinan aku loh. katanya nasi goreng n telornya enak banget.. beda ga kayak abang” nasi goreng.. yes bisa jadi istri idaman dun :*
Agung:
nulis ape yak? bingung neh pertama kalinya nulis diary norak mode: ON. setelah liat yg di atas… yaah aku siy seneng klo dia seneng
amin bisa jadi istrinya orang ganteng
yah sebenernya sih cuma bikin dia bangga aja bisa masak yg enak..
udah ah nite dlu ya diary kita mau bobo dlu.. tapi si selvi nakal niy masa di apartemen sendiri tidurnya di sofa.. tamu kurang ajar..
biarin kan putri tidur kga ada yg bobo di sofa.. oh nasi gorengnya ga enak ya? ywdh giy sana bobo ga aku kelonin!
^_^”
